Gowa Raih Predikat Terbaik Penurunan Stunting di Sulsel

MAKASSAR, SUARASULSEL.COM – Kabupaten Gowa sukses memborong dua penghargaan bergengsi dalam upaya penanganan stunting tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Gowa dinobatkan sebagai Peringkat I Kabupaten dengan Progres Penurunan Stunting Terbaik dan Peringkat III Kategori Pelaksanaan Inovasi Aksi Stop Stunting Terbaik.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, dr. Evi Mustikawati Arifin, dalam acara Diseminasi Hasil Akhir Program Aksi Stop Stunting Tahun 2025 di Hotel Unhas Makassar, Rabu (24/12).

Penurunan Signifikan: Dari 21,1% ke 17%

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa, drg. Abd Haris, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari kerja kolaboratif lintas sektor. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, Gowa mencatatkan progres penurunan prevalensi paling tajam di antara 24 kabupaten/kota di Sulsel.

“Prevalensi stunting Kabupaten Gowa turun dari 21,1 persen menjadi 17 persen. Ini adalah hasil dari intervensi spesifik dan sensitif yang dijalankan secara konsisten oleh Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS),” ujar drg. Haris.

Inovasi Desa Lokus dan Pendamping Gizi

Selain progres penurunan secara umum, Gowa juga diakui berkat inovasi Aksi Stop Stunting (ASS). Program ini melibatkan:

  • Fokus Wilayah: Penetapan 21 desa lokus intervensi.

  • Tenaga Ahli: Perekrutan Pendamping Gizi Desa khusus.

  • Intervensi Langsung: Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal bagi balita dan ibu hamil dengan masalah gizi.

  • Sinergi Kader: Pelibatan aktif kader pendamping dan Tim Penggerak PKK.

Target Berikutnya: 14 Persen

Meski telah meraih prestasi, Pemerintah Kabupaten Gowa tidak lantas berpuas diri. drg. Haris menegaskan target berikutnya adalah menekan prevalensi hingga menyentuh angka 14 persen.

Fokus utama ke depan tetap pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Hal ini dilakukan untuk memastikan pencegahan stunting dimulai sejak masa kehamilan guna memutus rantai kasus baru di tingkat desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *