SUARA-SULSEL.COM, BANTAENG – PT Huadi Nickel Alloy Indonesia beserta groupnya dan pabrik smelter oleh PT Bumi Mineral Sulawesi (PT BMS) keluhkan pemadaman bergilir oleh PLN.
Demikian dikatakan Manajemen Produksi PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia Fuad Ismail, Selasa (28/11/2023).
Fuad Ismail menjelaskan, sejauh ini pihaknya sudah mengurangi aktivitas produksi akibat kurangnya pasokan listrik.
“Beberapa bulan terakhir kami sudah mengurangi aktivitas produksi di dalam (smelter Huadi),” kata Fuad via rilis, Selasa (26/11/2023).
Ia mengaku, sejauh ini 40 persen aktivitas produksi sementara walaupun dari PLN meminta semua pelanggan mengurangi sekitar 30 persen, sembari menunggu daya listrik kembali normal.
“Kami mengurangi pemakaian daya listrik, supaya bisa mengurangi pemadaman bergilir listrik. Produksi kami turunkan hingga kapasitas yang terpakai adalah 60 persen dari yang terpasang,” jelasnya.
Pihaknya memang sudah mengurangi daya listrik berdasarkan permintaan PLN sampai kondisi pasokan listrik kembali normal.
“Kita semua berharap kondisi ini dapat segera diatasi, tetapi yang kami harapkan mitigasi dari PLN untuk produksi selanjutnya dapat dilakukan karena jika keadaan ini terjadi lagi yang akan merasakan dampaknya adalah seluruh pelanggan,” katanya.
Diketahui, Manajer PLN Bantaeng Bustamin fenomena alam el nino berimbas pada turunnya pasokan pembangkit-pembangkit listrik, seperti PLTA dan PLTB.
Dengan adanya EL Nino, PLTA yang tadinya mampu 850 MW (Mega Watt) kini hanya bisa (kurang lebih) 150 MW. Dan di PLTB normalnya bisa suplai 140 MW itu turun hanya bisa 50 MW,” kata Bustamin di kantor PLN UP3 Bantaeng, Senin (27/11/2023) lalu.
Selain itu, penggunaan listrik di industri besar, kata Bustamin, jaringan transmisi berbeda dengan jaringan untuk disuplai ke warga.
“Kalau yang kawasan industri itu kan tegangan tinggi. Jaringannya pun itu beda, bukan yang tiang tiga kabel itu, yang biasa di pinggir jalan, tapi pakai jaringan langsung SUTT yang tinggi itu, yang tower itu, jadi langsung dari gardu induk,” jelasnya.
Diketahui, saat ini penambahan pembangkit yang sudah sinkron adalah sebesar 30 MW. Kemudian akan masuk lagi tambahan 50 MW pada akhir Desember 2023.
PLN juga sedang lakukan percepatan penambahan pembangkit Inter Temporary Capacity di Punagaya sebesar 200 MW yang ditargetkan masuk sistem pada Maret 2024.
“PLN memohon maaf terkait manajemen beban yang dilakukan, dan kami berharap masyarakat bersedia bahu membahu dengan menurunkan penggunaan pemakaian listrik sehari-hari, sambil menunggu pemulihan sistem kelistrikan,” ujarnya.
Dampak kekurangan pasokan listrik dirasakan juga pabrik smelter yang beroperasi di wilayah Sulselrabar.
Tak sedikit pihak smelter harus mengurangi produksinya demi memenuhi kebutuhan pasokan listrik masyarakat umum.(*)





