MAKASSAR – Rehabilitasi mangrove di Lantebung, Kota Makassar, terus diperkuat melalui penanaman, pemeliharaan, dan pemantauan kawasan. Upaya ini juga disertai pengembangan demplot kepiting bakau untuk menjajaki peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Sejak 2024, PT Sankyu Indonesia International bersama Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) dan Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia telah mendukung penanaman 11.500 bibit mangrove di Situs Belajar Rehabilitasi Mangrove Lantebung.
Jumlah tersebut terdiri atas 3.000 bibit pada 2024, 5.000 bibit pada 2025, dan tambahan 3.500 bibit pada 2026.
Dukungan itu mencakup pemeliharaan kawasan rehabilitasi, pemantauan pertumbuhan mangrove, perawatan fasilitas pendukung, serta uji coba demplot kepiting bakau selama satu siklus budidaya.
Kegiatan pada Kamis (15/10/2026) diikuti lebih dari 30 peserta. Mereka terdiri atas Presiden Direktur PT Sankyu Indonesia International Shinichi Iba beserta tim, perwakilan KEHATI dan YKL Indonesia, Jaringan Ekowisata Mangrove Lantebung (Jekomala), Ikatan Keluarga Lantebung (IKAL), nelayan, serta masyarakat pesisir.
Perkuat Fungsi Ekologis Mangrove
Direktur Program KEHATI, Rony Megawanto, menegaskan pentingnya mangrove dalam mitigasi perubahan iklim. Ekosistem ini menyerap dan menyimpan karbon. Sistem perakarannya juga membantu meredam gelombang dan melindungi pesisir dari abrasi.
“Menjadi tugas kita semua, baik organisasi masyarakat sipil, kelompok masyarakat, maupun korporasi, untuk memperbanyak hutan mangrove di Indonesia. Salah satunya di Lantebung ini, bagaimana kita terus mempertahankan dan memperluas upaya konservasi mangrove,” ujar Rony.
Ia mengapresiasi dukungan PT Sankyu Indonesia International yang membantu menjaga keberlanjutan upaya konservasi di Lantebung. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak penting untuk memperkuat kontribusi mangrove terhadap mitigasi perubahan iklim.
Dukungan Berlanjut hingga Pemeliharaan
Direktur PT Sankyu Indonesia International, Dedi Mufdi, mengatakan perkembangan mangrove di Lantebung menjadi alasan bagi perusahaan untuk melanjutkan dukungan.
“Untuk ketiga kalinya kami datang ke sini dan melihat bahwa progresnya cukup bagus. Dulu kami melihat kawasan ini masih luas yang tidak ada mangrove dan belum banyak tanaman, tetapi dua tahun kemudian mangrovenya tumbuh dengan baik,” kata Dedi.
Selain penanaman, perusahaan mendukung perawatan dan pemantauan mangrove di area seluas 5.000 meter persegi. Dukungan juga mencakup pemeliharaan jembatan titian yang digunakan untuk mengakses kawasan serta uji coba demplot kepiting bakau.
Direktur Eksekutif YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, mengapresiasi konsistensi dukungan perusahaan sejak 2024. Ia menilai rehabilitasi mangrove memerlukan upaya menyeluruh, tidak hanya penanaman, tetapi juga pemeliharaan dan pemantauan pertumbuhan.
“Tidak banyak perusahaan yang melakukan rehabilitasi mangrove secara konsisten dan menyeluruh. Kami mengapresiasi komitmen PT Sankyu Indonesia International karena upaya ini tidak berhenti pada penanaman, tetapi juga mencakup perawatan dan keberlanjutan pertumbuhannya,” ujar Nirwan.
Menurutnya, Situs Belajar Rehabilitasi Mangrove Lantebung juga menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat. Warga mulai terlibat dalam pemantauan kondisi mangrove, pengumpulan data pertumbuhan, dan pengamatan perubahan kawasan.
Pengembangan demplot kepiting bakau diharapkan membuka pembelajaran mengenai potensi usaha berbasis sumber daya pesisir. Dengan demikian, upaya konservasi dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan keberlanjutan ekosistem.

Libatkan Masyarakat Pesisir
Tokoh masyarakat Lantebung, Rumallang, menyambut baik dukungan berbagai pihak dalam rehabilitasi mangrove dan pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi masyarakat Lantebung. Kami juga berharap masyarakat semakin peduli untuk menjaga mangrove agar tetap lestari, karena keberadaannya penting bagi lingkungan dan generasi mendatang,” ujar Rumallang.
Keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan. Masyarakat tidak hanya diharapkan ikut merawat mangrove, tetapi juga terlibat dalam pengembangan kegiatan ekonomi yang selaras dengan konservasi.
Kolaborasi PT Sankyu Indonesia International, KEHATI, YKL Indonesia, dan masyarakat Lantebung diharapkan memperkuat fungsi Situs Belajar Rehabilitasi Mangrove Lantebung sebagai ruang pembelajaran konservasi sekaligus pengembangan ekonomi berbasis ekosistem pesisir.
Keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya bergantung pada jumlah bibit yang ditanam. Pemeliharaan, pemantauan pertumbuhan, keterlibatan masyarakat, serta pengembangan manfaat ekonom




