MAKASSAR — Bagi sebagian orang, laut adalah hamparan biru yang menawarkan keindahan. Namun, bagi Nirwan Dessibali, laut adalah ruang kehidupan yang harus dijaga, dipulihkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Di balik berbagai inisiatif konservasi laut berbasis masyarakat yang berkembang di Sulawesi Selatan dalam beberapa tahun terakhir, terdapat sosok yang konsisten bekerja bersama masyarakat pesisir, nelayan, pemerintah, akademisi, hingga lembaga internasional.
Ia adalah Nirwan Dessibali, Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, organisasi yang telah lebih dari dua dekade mengabdikan diri pada upaya perlindungan ekosistem pesisir dan laut di Indonesia.
Bagi Nirwan, konservasi tidak pernah dimaknai sebagai pembatasan dalam memanfaatkan sumber daya alam. Sebaliknya, konservasi adalah upaya memastikan laut tetap mampu menghidupi masyarakat, bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang.
“Kalau masyarakat kehilangan sumber penghidupan karena laut rusak, maka konservasi telah gagal. Karena itu, masyarakat harus menjadi pelaku utama, bukan sekadar penerima program,” ujarnya saat berbincang dengan suarasulsel.com di Makassar, Minggu 5 Juli 2026.
Prinsip tersebut menjadi landasan dalam setiap program yang dikembangkan YKL Indonesia.
Berawal dari Ketertarikan pada Laut
Ketertarikan Nirwan Dessibali terhadap dunia kelautan tumbuh sejak menempuh pendidikan Ilmu Kelautan. Pengalaman akademik tersebut mempertemukannya dengan berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat pesisir, mulai dari kerusakan terumbu karang, hilangnya hutan mangrove, praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan, hingga ketimpangan ekonomi yang dialami nelayan skala kecil.
Kesadaran itulah yang mendorong alumnus Ilmu Kelautan Universitas Lambung Mangkurat ini memilih jalan pengabdian di organisasi masyarakat sipil. “Pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil telah membuka hati, pikiran, dan niat saya untuk mengabdi bersama YKL Indonesia,” kata Nirwan.
Sejak bergabung sebagai relawan pada 2012, Nirwan dipercaya mengemban berbagai tanggung jawab, mulai dari penguatan jejaring, pengembangan program, hingga akhirnya menjabat sebagai Direktur Eksekutif YKL Indonesia pada 2019.
Di bawah kepemimpinannya, YKL Indonesia memperluas cakupan kerja dari Sulawesi Selatan ke berbagai wilayah di Indonesia Timur, khususnya kawasan Wallacea yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Membangun Konservasi Berbasis Masyarakat
Berbeda dengan pendekatan konservasi yang selama ini identik dengan pembatasan aktivitas masyarakat, Nirwan mengembangkan pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama.
Ia meyakini bahwa keberhasilan konservasi hanya dapat dicapai apabila masyarakat memperoleh manfaat nyata dari menjaga ekosistem di sekitarnya.
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan nelayan, rehabilitasi mangrove, perlindungan penyu, penguatan kawasan konservasi, hingga pengelolaan perikanan gurita berbasis masyarakat.
Salah satu program yang mendapat perhatian luas adalah PROTEKSI GAMA, sebuah inisiatif penguatan ekonomi dan konservasi gurita di Pulau Langkai, Pulau Lanjukang, dan Pulau Bonetambu, Kota Makassar.
Program ini memperkenalkan sistem buka-tutup penangkapan gurita yang disepakati bersama oleh masyarakat. Melalui mekanisme tersebut, sebagian kawasan ditutup sementara agar populasi gurita dapat berkembang sebelum kembali dibuka untuk aktivitas penangkapan.
Pendekatan sederhana ini terbukti memberikan manfaat ekologis sekaligus meningkatkan pendapatan nelayan karena ukuran gurita yang ditangkap menjadi lebih besar dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Pengalaman tersebut kini mulai dilirik sebagai model pembelajaran bagi berbagai daerah lain di Indonesia.
Menjadikan Mangrove Sebagai Ruang Belajar
Di Kota Makassar, Nirwan dikenal aktif mengembangkan Situs Belajar Rehabilitasi Mangrove Lantebung, yang kini menjadi salah satu pusat pembelajaran rehabilitasi mangrove berbasis masyarakat di Indonesia. Kawasan ini menjadi ruang kolaborasi bagi masyarakat, akademisi, pemerintah, pelajar, hingga sektor swasta untuk mempelajari praktik rehabilitasi mangrove yang berkelanjutan.
Komitmennya terhadap pemulihan ekosistem pesisir juga diwujudkan melalui berbagai program perlindungan dan rehabilitasi mangrove di kawasan Teluk Palu sejak 2020. Program tersebut tidak hanya berfokus pada rehabilitasi mangrove sebagai bagian dari pemulihan pascabencana tsunami, tetapi juga mendorong penguatan mitigasi bencana berbasis ekosistem melalui pendekatan yang lebih komprehensif.
Menurut Nirwan, rehabilitasi mangrove tidak dapat dimaknai sebatas kegiatan menanam bibit. Upaya tersebut harus diawali dengan pemulihan kondisi ekologi dan hidrologi kawasan, pengurangan berbagai faktor pengganggu, serta menciptakan kondisi yang memungkinkan regenerasi alami mangrove berlangsung secara optimal. Setelah itu, seluruh proses harus dipantau secara berkala untuk memastikan pertumbuhan mangrove berjalan dengan baik dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.
“Banyak orang mengira rehabilitasi mangrove hanya soal menanam. Padahal yang lebih penting adalah memastikan ekosistemnya kembali berfungsi sehingga mangrove dapat tumbuh secara alami dan terus dijaga oleh masyarakat. Menanam hanya membutuhkan beberapa menit, tetapi memastikan mangrove tumbuh dan tetap lestari membutuhkan komitmen bersama,” ujar Nirwan.
Menghubungkan Sains dan Kebijakan
Selain aktif di lapangan, Nirwan juga dikenal sebagai penulis, peneliti, editor, dan fasilitator berbagai forum kebijakan.
Ia percaya bahwa pengalaman masyarakat pesisir harus didukung oleh data ilmiah agar dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan publik.
Karena itu, berbagai penelitian, buku, film dokumenter, hingga publikasi ilmiah terus didorong YKL Indonesia selama beberapa tahun terakhir.
Di bawah kepemimpinannya, YKL Indonesia telah menerbitkan berbagai buku mengenai praktik baik konservasi laut, perikanan skala kecil, rehabilitasi mangrove, hingga pengelolaan sumber daya pesisir.
Menurutnya, dokumentasi merupakan bagian penting dari konservasi agar pengalaman lapangan tidak berhenti menjadi cerita lokal, melainkan dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.
Bersama tim YKL Indonesia dan sejumlah akademisi, Nirwan juga terlibat dalam penyusunan berbagai buku, di antaranya Menggurita di Pulau, Keanekaragaman Hayati Laut Kota Makassar, Byak Karon: Mengekalkan Jejak Leluhur, Siasat dari Pulau, Mangrove Teluk Palu dan lainnya.
Saat ini, ia juga tengah menyelesaikan sejumlah buku baru, antara lain Mangrove Terakhir di Kota Makassar, Mangrove dan Tsunami di Teluk Palu, Sistem Buka-Tutup Perikanan Gurita, serta beberapa publikasi lain mengenai konservasi pesisir dan laut.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Selama memimpin YKL Indonesia, Nirwan membangun berbagai kemitraan dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, lembaga donor, komunitas lokal, hingga sektor swasta.
Baginya, tantangan perubahan iklim dan kerusakan ekosistem tidak mungkin diselesaikan oleh satu lembaga saja.
“Kolaborasi adalah kata yang sering kita dengar. Namun tidak sedikit yang berhenti sebagai slogan atau hanya tertulis dalam dokumen. Di YKL Indonesia, kami memaknai kolaborasi bukan sebagai penambahan pekerjaan bagi setiap pihak, melainkan bagaimana mempertemukan pekerjaan masing-masing agar mampu menghasilkan dampak yang nyata, efektif, dan berkelanjutan,” ujar Nirwan.
Melalui berbagai kerja sama tersebut, YKL Indonesia saat ini mengembangkan program rehabilitasi mangrove, perlindungan penyu, pengelolaan perikanan berkelanjutan, pemberdayaan perempuan pesisir, penguatan ekonomi masyarakat, hingga pengembangan kawasan konservasi di berbagai wilayah Indonesia.
Konservasi Harus Memberikan Harapan
Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, pencemaran laut, dan eksploitasi sumber daya pesisir, Nirwan tetap optimistis.
Menurutnya, Indonesia masih memiliki modal sosial yang sangat kuat, yaitu masyarakat pesisir yang telah hidup berdampingan dengan laut selama berabad-abad.
Selama mereka dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, diberikan ruang untuk belajar, dan memperoleh manfaat ekonomi yang adil, konservasi akan tumbuh sebagai gerakan bersama.
Bagi Nirwan, menjaga laut bukan sekadar pekerjaan, melainkan investasi bagi masa depan bangsa. “Laut yang sehat bukan hanya menghasilkan ikan. Laut yang sehat menghadirkan ketahanan pangan, menggerakkan ekonomi, menjaga budaya, dan memberikan harapan bagi generasi yang akan datang.”
Melalui pendekatan yang memadukan ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor, Nirwan Dessibali terus membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari pulau-pulau kecil, dari komunitas pesisir, dan dari mereka yang memilih bekerja tanpa banyak sorotan demi menjaga kekayaan laut Indonesia.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi wilayah pesisir saat ini, kiprah Nirwan menjadi pengingat bahwa konservasi bukan sekadar menyelamatkan alam, tetapi juga menjaga kehidupan jutaan orang yang menggantungkan masa depannya pada laut. Karena itulah, bagi Nirwan, laut tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga layak diperjuangkan.

