MAKASSAR, SUARASULSEL.COM – Kolaborasi kemanusiaan yang progresif lahir di jantung Kota Daeng. Akademisi dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) menggandeng komunitas Enable Indonesia untuk menciptakan inovasi tangan palsu prostetik. Program ini bertujuan memberikan harapan baru bagi penyandang disabilitas melalui pembagian alat bantu secara cuma-cuma atau gratis.
Inovasi Teknologi Terjangkau untuk Kemanusiaan
Langkah awal ini menjadi tonggak penting dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat yang berbasis teknologi tepat guna. Berbeda dengan prostetik konvensional yang kerap mematok harga selangit, kolaborasi ini memanfaatkan sistem manufaktur yang lebih efisien namun tetap fungsional.
Pendiri Enable Indonesia sekaligus mahasiswa Kedokteran Unismuh, Rafly, menjadi inisiator utama gerakan ini. Ia mengungkapkan bahwa misi utama mereka adalah meruntuhkan hambatan finansial yang selama ini menghalangi penyandang disabilitas mendapatkan alat bantu.
“Kami menyadari bahwa harga tangan palsu di Indonesia saat ini masih tergolong sangat mahal dan sulit terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. Oleh sebab itu, kehadiran Enable Indonesia di Makassar bertujuan menjadi jembatan agar pasien bisa memperoleh tangan palsu tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun,” ujar Rafly dengan penuh optimisme.
Rencana Ekspansi dan Penjaringan Pasien
Tim pengembang tidak hanya berhenti pada tahap produksi di laboratorium. Mereka telah merancang sistem pendaftaran terbuka bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan tersebut. Calon penerima manfaat dapat mengakses tautan pendaftaran yang telah disiapkan oleh penyelenggara untuk menjalani proses asesmen awal.
Aditya Prananda RS, salah satu perancang program pengabdian ini, menjelaskan bahwa mereka memiliki visi jangka panjang untuk menjangkau wilayah pelosok di Sulawesi Selatan.
“Ke depannya, kami berencana turun langsung ke berbagai daerah untuk melakukan survei lapangan. Kami ingin memastikan bantuan ini tepat sasaran. Namun, tentu kami juga sangat mengharapkan dukungan dari para donatur dan mitra strategis agar pendanaan kegiatan sosial ini dapat terus berkelanjutan,” jelas Aditya.
Dukungan Akademisi dan Tenaga Medis
Program inspiratif ini mendapat apresiasi tinggi dari kalangan pendidik dan praktisi kesehatan. Dosen FKIK Unismuh Makassar, dr. Sultan Pasha, menyatakan bahwa sinergi antara mahasiswa, dokter, dan komunitas relawan adalah bentuk nyata dari pengabdian masyarakat yang transformatif.
“Kehadiran wadah seperti ini sangat membantu rekan-rekan penyandang disabilitas untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri. Ini bukan sekadar pemberian alat, melainkan upaya kolektif untuk meningkatkan kualitas hidup dan martabat manusia melalui kolaborasi medis dan sosial,” tegas dr. Sultan Pasha.
Melalui program ini, FKIK Unismuh Makassar membuktikan bahwa institusi pendidikan mampu menjadi motor penggerak solusi nyata bagi problematika sosial di masyarakat. Kehangatan kolaborasi ini diharapkan mampu memicu inovasi-inovasi serupa di bidang kesehatan lainnya.






