Robohnya Jembatan Mangrove Untia: Panggilan untuk Aksi Nyata

Opini

Oleh: Sri Wahyu Nengsi, Puteri Bumi Sulsel 2025

SUARASULSEL.COM – Sebagai Puteri Bumi Sulsel, saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi Desa Wisata Mangrove Untia. Saya melihat langsung pesona hutan mangrove yang begitu asri, dengan potensi besar sebagai destinasi ekowisata andalan Sulawesi Selatan.

Namun, pesona itu beriringan dengan pemandangan yang memprihatinkan: jembatan kayu utama yang menjadi akses bagi wisatawan telah roboh.

Masyarakat memang sudah berupaya memperbaiki jembatan ini dengan seadanya, menggunakan bambu dan material lain.

Namun, kondisi ini tidak aman, bahkan membahayakan pengunjung. Kerusakan infrastruktur ini tidak hanya mengancam keselamatan, tetapi juga masa depan ekowisata Mangrove Untia.

Dampak yang Mengerikan

Kerusakan ini telah menimbulkan beberapa dampak serius:

  1. Menurunnya Kunjungan Wisatawan: Warga lokal bercerita bahwa tempat ini dulunya ramai. Sekarang, hanya segelintir pengunjung yang datang karena aksesnya tidak aman.
  2. Ancaman terhadap Ekonomi Lokal: Pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari penjualan di sekitar lokasi kini kehilangan pembeli. Ekonomi lokal yang sempat berkembang kini terancam.
  3. Hilangnya Potensi Lingkungan dan Edukasi: Mangrove adalah benteng alami yang melindungi dari abrasi. Tanpa pengelolaan yang baik, kita tidak hanya kehilangan tempat wisata, tetapi juga aset penting untuk edukasi lingkungan dan konservasi.

Panggilan untuk Kolaborasi

Permasalahan ini tidak bisa dibiarkan. Pemerintah, masyarakat, komunitas, dan pihak swasta harus mengambil tindakan. Perbaikan fasilitas harus menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah dan desa perlu mengalokasikan anggaran khusus untuk membangun kembali jembatan dengan material yang aman dan tahan lama.

Lebih dari itu, perbaikan fisik harus diikuti dengan penguatan program ekowisata yang terintegrasi. Libatkan masyarakat lokal sebagai pemandu wisata atau pengelola UMKM. Kembangkan Mangrove Untia sebagai pusat edukasi lingkungan, di mana pengunjung bisa belajar tentang konservasi dan menanam bibit mangrove.

Saya yakin, dengan kolaborasi yang kuat, kita bisa mengembalikan kejayaan ekowisata Mangrove Untia. Mari bersama-sama menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan pariwisata bisa mengubah ancaman menjadi peluang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *