GOWA, SUARASULSEL.COM – Sebidang lahan kritis di lereng Gunung Bawakaraeng, Desa Kanreapia, kini menjelma menjadi sumber kesejahteraan bagi para petani.
Lewat program kemitraan masyarakat (PKM) yang digagas Universitas Wira Bhakti, lahan yang sebelumnya hanya menghasilkan panen pas-pasan kini berubah menjadi pusat agrowisata yang menjanjikan dan mampu meningkatkan pendapatan petani secara signifikan.
Dipimpin oleh Arnas Hasanuddin, tim PKM berkolaborasi erat dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dan Dinas Pertanian Kabupaten Gowa. Program ini fokus pada pengembangan agribisnis dan agrowisata, sekaligus mengubah pola pikir petani yang masih tradisional.
Sebelumnya, sebagian besar petani sayur-mayur di desa ini hidup dengan pendapatan di bawah upah minimum. Produksi sering terganggu cuaca ekstrem dan serangan hama. Namun, dengan penerapan sistem tanam tumpangsari—seperti menanam kentang dan serai secara bersamaan—para petani berhasil mengoptimalkan lahan terbatas mereka.
Hasilnya terbukti nyata. Berdasarkan laporan tahun 2025, pendapatan usaha kelompok tani di Desa Kanreapia meningkat rata-rata sebesar 37,45%. Kenaikan ini tidak hanya memperbaiki kondisi ekonomi, tetapi juga membawa perubahan sosial. Para petani kini lebih optimis dan sadar akan pentingnya pendidikan untuk masa depan anak-anak mereka.
Program ini membuktikan bahwa inovasi dan kolaborasi bisa mengubah tantangan menjadi peluang, membawa kemakmuran, dan menjadikan sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi yang berkelanjutan.






