BOSTON AS, SUARASULSEL.COM — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, kembali mendapat undangan dari Harvard Medical School untuk menjadi pembicara dalam forum akademik global pada 30–31 Maret 2026.
Undangan tersebut datang dari Schepens Eye Research Institute of Mass Eye and Ear, bagian dari Department of Ophthalmology Harvard Medical School yang berlokasi di Boston. Forum ini menghadirkan para ilmuwan dan pakar kesehatan dunia untuk membahas isu strategis berbasis riset.
Dalam kesempatan itu, Taruna Ikrar mengangkat topik “Global Burden of GBS Diseases & Vaccine Platforms Challenges”. Ia mengulas beban global penyakit Guillain-Barré Syndrome (GBS) sekaligus tantangan pengembangan platform vaksin modern.
Menurut Taruna, kehadirannya di forum tersebut tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga mencerminkan pengakuan terhadap kapasitas keilmuan Indonesia di tingkat global.
“Ini menjadi kebanggaan, bukan hanya secara pribadi, tetapi juga bagi institusi dan negara,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (27/3/2026).
Selain itu, ia menilai Harvard sebagai pusat keilmuan dunia memiliki peran penting dalam membentuk arah kebijakan kesehatan global berbasis sains. Oleh karena itu, keterlibatan Indonesia dinilai strategis untuk memperkuat posisi dalam percaturan internasional.
Bahas Penyakit Langka dan Inovasi Vaksin
Dalam paparannya, Taruna menyoroti Guillain-Barré Syndrome sebagai penyakit saraf langka yang berpotensi menyebabkan kelumpuhan hingga kematian. Meskipun kasusnya relatif sedikit, dampaknya terhadap sistem kesehatan cukup besar karena membutuhkan perawatan intensif dengan biaya tinggi.
Di sisi lain, ia membahas perkembangan teknologi vaksin seperti mRNA, viral vector, dan protein subunit. Teknologi ini, lanjutnya, membuka peluang percepatan inovasi. Namun demikian, pengembangannya tetap membutuhkan pengawasan ketat terkait keamanan jangka panjang dan distribusi yang merata.
Karena itu, Taruna menegaskan pentingnya keseimbangan antara inovasi dan prinsip kehati-hatian ilmiah.
“Regulator harus mampu menyeimbangkan inovasi, keamanan, dan kepercayaan publik secara bersamaan,” tegasnya.
Perkuat Peran Global BPOM
Lebih lanjut, Taruna menilai peran BPOM kini semakin strategis di tengah dinamika kesehatan global. Lembaga regulator tidak lagi hanya berfungsi sebagai pemberi izin, tetapi juga berperan dalam membangun ekosistem kesehatan yang adaptif dan berbasis sains.
Hal ini diperkuat dengan capaian BPOM yang telah meraih status WHO Listed Authority (WLA). Status tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu rujukan global dalam pengawasan obat dan makanan.
Di tingkat nasional, Indonesia menghadapi tantangan besar dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan kondisi geografis yang kompleks. Oleh sebab itu, sistem regulasi yang kuat dan inklusif menjadi kebutuhan utama.
Indonesia Kian Aktif di Panggung Global
Keterlibatan Taruna Ikrar di Harvard sekaligus menunjukkan pergeseran posisi Indonesia dalam isu kesehatan global. Jika sebelumnya lebih banyak menjadi objek kebijakan, kini Indonesia mulai tampil sebagai kontributor aktif.
Partisipasi ini juga membuka peluang kolaborasi lintas negara, terutama dalam riset, pengembangan teknologi kesehatan, dan penguatan industri farmasi.
Ke depan, Taruna menekankan bahwa tantangan terbesar bukan hanya kehadiran di forum internasional, melainkan kemampuan untuk ikut menentukan arah kebijakan kesehatan dunia.
Ia menutup dengan menegaskan pentingnya sinergi antara sains, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor untuk menjawab tantangan global yang semakin kompleks.

