MAKASSAR, SUARASULSEL.COM – Bonus demografi yang tengah dihadapi Indonesia menjadi peluang strategis dalam mendorong penguatan sektor kepemudaan dan keolahragaan nasional.
Kondisi ini sejalan dengan arah Rencana Strategis Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Tahun 2025–2029 yang membuka ruang seluas-luasnya bagi akademisi, praktisi, tenaga keolahragaan, hingga lembaga olahraga untuk berkontribusi dalam penguatan riset dan pengembangan sport science guna menopang prospek Industri Olahraga Nasional.
Salah satu terobosan penting dalam periode tersebut adalah kebijakan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir yang membentuk Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat perubahan paradigma pembangunan olahraga nasional yang tidak lagi bertumpu semata pada kebugaran dan prestasi, melainkan juga pada aspek ekonomi, manajemen, dan industri.
Kebijakan tersebut mendapat respons positif dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan praktisi olahraga di seluruh Indonesia. Akademisi Universitas Negeri Makassar sekaligus pakar sport science, Dr Fahrizal, menilai kebijakan ini sebagai momentum penting bagi transformasi sistem keolahragaan nasional.
“Ini adalah momentum luar biasa. Olahraga tidak lagi dipandang hanya sebagai sarana kebugaran dan prestasi semata, tetapi di dalamnya terdapat proses pemasaran yang menghubungkan kepentingan produksi dan konsumsi. Semua proses itu membutuhkan manajemen, dan muaranya adalah industri,” ujar Fahrizal.
Menurutnya, penguatan industri olahraga tidak dapat dilepaskan dari kesiapan data yang akurat dan terintegrasi. Salah satu tantangan utama selama ini adalah belum tersedianya basis data keolahragaan nasional yang mampu menggambarkan kondisi riil sumber daya olahraga, baik secara kelembagaan maupun personal.
Ia menegaskan, langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyiapkan database keolahragaan yang valid dan mutakhir untuk mendukung proses mapping atau pemetaan kebutuhan seluruh aspek dalam sistem keolahragaan nasional. Pemetaan tersebut menjadi dasar dalam menyusun pemodelan pembangunan olahraga yang sistemik, terencana, terukur, dan aplikatif menuju Indonesia Emas 2045.
Sejalan dengan semangat Permenpora Nomor 1 Tahun 2026 yang menekankan penguatan tata kelola dan sistem informasi keolahragaan, Fahrizal mengembangkan sebuah inovasi berbasis teknologi digital berupa Aplikasi Sistem Informasi Olahraga Daerah (SiRoda).
SiRoda merupakan aplikasi berbasis Android yang dirancang untuk mendukung pemerintah dalam melakukan pemutakhiran data keolahragaan secara komprehensif. Aplikasi ini mencakup pendataan atlet, pelatih, tenaga keolahragaan, cabang olahraga, sarana dan prasarana, hingga perkembangan prestasi olahraga di daerah.
“Pengembangan SiRoda bertujuan untuk membantu pemerintah menyediakan data olahraga yang akurat, baik secara kelembagaan maupun personal. Data ini sangat penting sebagai dasar pengambilan kebijakan,” jelasnya.
Fahrizal menjelaskan, meskipun saat ini telah banyak platform pendataan olahraga, sebagian besar masih berbasis web dan membutuhkan perangkat komputer atau laptop sehingga kurang praktis diakses oleh masyarakat luas.
“Aksesibilitas masih menjadi kendala. Banyak aplikasi yang harus diakses melalui komputer atau laptop dan terkesan rumit. Dengan SiRoda berbasis Android, masyarakat cukup menggunakan smartphone,” tambahnya.
Melalui SiRoda, pengguna hanya perlu mengunduh aplikasi dan melakukan registrasi untuk menjadi anggota. Sistem ini dirancang agar mudah digunakan, aman, serta mampu menyajikan informasi terkini mengenai tren prestasi dan perkembangan keolahragaan secara berkelanjutan.
Ia berharap kehadiran SiRoda dapat menjadi bagian dari ekosistem digital keolahragaan nasional yang mendukung optimalisasi bonus demografi, sekaligus memperkuat fondasi industri olahraga Indonesia.
“Harapan kami, ke depan tidak ada lagi kehilangan data dan informasi keolahragaan. Semua terintegrasi, transparan, dan dapat dimanfaatkan untuk pembinaan, pengembangan industri, serta peningkatan prestasi olahraga nasional,” tutup Fahrizal.

