TANA TORAJA, SUARASULSEL.COM — Pemerintah Kabupaten Tana Toraja didesak untuk mempercepat langkah dan memperkuat strategi dalam penanggulangan HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TB) demi mencapai target ambisius nasional “Three Zero 2030” (nol infeksi baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol diskriminasi).
Desakan ini disampaikan oleh Guru Besar Universitas Mega Buana Palopo (UMB Palopo), Prof. Dr. Arlin Adam, dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan TB & HIV/AIDS yang digelar Senin, 24 November 2025, dan dibuka oleh Sekda Kabupaten Tana Toraja, dr. Rudhy Andi Lolo.
Prof Arlin memaparkan, Tana Toraja masih menghadapi tantangan serius, termasuk layanan tes HIV yang belum merata, yang berisiko menyebabkan keterlambatan penemuan kasus. Ketersediaan logistik penting, seperti obat ARV dan test kit, yang harus dipastikan tidak terputus.
Ia menekankan agar kelompok risiko tinggi, seperti ibu hamil, kelompok kunci, dan populasi jembatan, harus menjadi perhatian utama dalam program screening dan pencegahan.
Strategi Kolaboratif: Pariwisata hingga Tokoh Adat
Untuk mengakselerasi penanggulangan, Prof. Arlin mendorong pendekatan kolaboratif berbasis komunitas. Strategi yang akan diperkuat layanan Mobile VCT dengan mendorong layanan tes HIV bergerak dan pendampingan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama.
Mengajak tokoh agama dan tokoh adat Toraja untuk secara aktif memerangi stigma yang menjadi penghambat utama ODHA mengakses layanan. Memanfaatkan event adat dan kegiatan pariwisata Toraja sebagai sarana edukasi yang efektif untuk menyebarkan informasi dan mendorong tes.
Prof. Arlin menegaskan bahwa penanganan HIV/AIDS adalah masalah martabat manusia, bukan hanya kesehatan. “Yang berbahaya bukan ODHA, tetapi stigma yang membuat mereka menjauh dari layanan,” tegas Prof. Arlin menutup sesi.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tana Toraja, Dr. Erni Yetti Riman, S.KM., M.Kes, juga hadir sebagai pemateri dalam rapat koordinasi tersebut.

