oleh

Pemuda dan Mahasiswa Makassar Sepakat Jaga Persatuan Pasca Pilpres 2019

-News-0 views
Pemuda dan Mahasiswa Makassar Sepakat Jaga Persatuan Pasca Pilpres 2019

MAKASSAR, SUARASULSEL.com – Ratusan pemuda dan mahasiswa dari berbagai orgainasi di Kota Makassar menyatakan sikap untuk menjaga persatuan pasca Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Pernyataan ini disampaikan dalam diskusi publik Lensa Demokrasi bersama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Perguruan Tinggi (Perti) Fajar dan Indonesia Public Health Committee (IPHC) menggelar diskusi publik dengan tema “Merajut Kembali Persatuan Pasca-Pilpres 2019”. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Trisula, Jalan Boulevard, Makassar, Rabu (3/7/2019).

Salah satu peserta diskusi, Risman mahasiswa Univesitas Fajar menyampaikan siap merajut kembali persatuan. Menurutnya, perlu rekonsiliasi tingkat bawah dan mahasiswa bisa menjadi penyambungnya.

“Melihat fenomena yang terjadi, begitu banyak peristiwa negatif. Banyak hoax di media sosial, politisi melakukan adu domba. Untuk itu saatnya mahasiswa dan pemuda mengambil peran,” jelasnya.

Hadir empat nasaumber yakni Dekan FISIPOL Unibos, Dr Arief Wicaksono S.IP MA, Pegiat Literasi yang juga Politisi Muda Partai Hanura, Wawan Mattaliu, Anggota DPRD Sulsel yang juga Politisi Muda PAN, Irfan AB serta Ketua PW GP Ansor Rusdi Idrus. Diskusi ini dipandu aktivis HMI Makassar, Irwan AR.

Irfan AB mengaku, retakan yang ada dalam semarak pesta domekrasi ini hanya ada di dunia maya, bukan sesuatu realitas objektif atau terjadi di dunia nyata.

loading...

“Bahkan retakan yang terjadi itu saya ibaratkan seperti piramida terbalik dimana kalangan elit itu perpecahannya semakin terasa, tapi dikalangan bawah tidak,” ujar Politisi PAN ini.

“Karena di lingkungan saya tidak ada memutuskan silaturahim. Jadi saya kira, setelah Pilpres, tidak ada lagi yang bilang Jokowi atau Prabowo,” imbau Irfan AB, selaku pendukung Prabowo-Sandi.

Kata dia, di realitas nyata tidak ada masalah. Justru kalangan menengah ke atas ini yang sulit untuk move on. Sementara kalangan bawah saat ini hanya berpikir tentang kebutuhan mendasar.

“Seperti apakah kita bisa makan hari ini? Anak saya bisa sekolah?” katanya.

Menurut legislator Sulawesi Selatan itu, yang harus dilakukan saat ini adalah mengevaluasi pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Irfan yang ikut merasakan kegiatan kampanye sebagai legislator, di samping mengkampanyekan diri sendiri, juga mengkampanyekan capres-cawapres yang diusung parpol.

“Mohon maaf saja, saat melakukan kampanye, saya tentu akan lebih memprioritaskan diri sendiri dibanding mengkampanyekan Capres-Cawapres,” tutur Irfan.

Rusdi Idrus, Ketua PW GP ANSOR Sul-Sel, mengaku berbeda dengan pendapat Irfan AB. Ia mengatakan perpecahan nampak terjadi di dunia maya dan dunia nyata.

Menurutnya, perselisihan dua kubu di dunia Maya harus segera dibendung. Fenomena hoax yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Isu yang bergulir didunia maya memiliki dampak kepada masyarakat. Ibaratnya seperti bola salju ketika dibiarkan bergulir dapat menjadi pembelajaran yang tidak baik bagi bangsa.

“Tetapi pasca Pilpres ini yang terpenting bagaimana kita kembali pada sila ke-tiga Pancasila yakni persatuan Indonesia, karena awal berdirinya bangsa kita bahkan dari negara majapahit semboyan Bhineka Tunggal Ika sudah digaunkan,” ungkapnya.

Dekan Fisipol Unibos, Arief Wicaksono, menyampaikan, dengan melihat keretakan sosial ini, hal yang perlu dilakukan pasca Pilpres yakni rekonsilisasi. Menurut teori konflik memang seperti itu ketika telah terjadi kegaduhan, harus direkonsiliasi.

Arief Wicaksono, menyarankan tentang perlunya rekonsiliasi pasca Pilpres. Dia berpandangan, mencuatnya terminologi cebong dan kampret pada Pilpres 2019 lalu menandakan di kalangan masyarakat telah terjadi disorientasi sosial.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed