oleh

Blue Forests : Mangrove Untuk Negeri

-News-35 views

MAKASSAR, SUARASULSEL.com – Blue Forests sebagai lembaga pelestari ekosistem mangrove di Indonesia menginisiasi perayaan International Mangrove Day dengan tujuan menguatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mangrove bagi kehidupan.

Perayaan ini diselenggarakan di berbagai wilayah, diantaranya di Mimika, Asmat, Makassar, Balikpapan dan Demak. Khusus di Makassar menggelar diskusi terbuka dengan tema “Mangrove Untuk Negeri” di salah satu cafe di Jalan Urip Sumiharjo, Jumat (26/7/2019).

Environmental Technical Advisor, Blue Forests, Yusran Nurdin sebagai pembicara dalam diskusi ini menyampaikan, tema besar yang diangkat pada perayaan tahun ini adalah “Mangrove untuk Negeri”. Tema tersebut coba didorong dengan harapan lebih menggaungkan lagi manfaat ekosistem mangrove pada semua lini kehidupan, baik ekologi, ekonomi, maupun sosial.

Kata dia, sejak dideklarasikan pada tahun 2004, Mangroves Day yang jatuh pada tanggal 26 Juli setiap tahunnya dijadikan momentum bagi banyak pihak untuk melakukan aksi dan menyuarakan kampanye terkait pelestarian ekosistem mangrove. Baru pada tahun 2015, Konferensi Umum Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) memproklamasikan 26 Juli sebagai Hari Internasional Mangrove dan menggarisbawahi pentingnya hutan mangrove sebagai “ekosistem yang unik, khusus dan rentan”.

“Mangrove merupakan ekosistem tumbuhan darat unik yang memiliki kemampuan untuk hidup di wilayah yang mendapat pengaruh frekuensi genangan pasang surut air laut. Bentuk adaptasi mangrove dari lingkungan ini umumnya terlihat dari bentuk akar yang tidak lazim dibanding tumbuhan darat lainnya. Di seluruh dunia ekosistem ini terdiri dari 69 jenis tumbuhan dan di Indonesia sendiri terdapat sekitar 50-an jenis mangrove yang tersebar dari Papua hingga Sumatera,” jelas Yusran.

Bukan tanpa alasan Blue Forests menjadikan memilih Mimika, Asmat, Makassar, Samboja Kalimantan Timur dan Demak sebagai salah satu lokasi perayaan International Mangrove Day 2019. Hal ini dilatari oleh beragam kondisi mangrove wilayah tersebut yang juga menjadi cerminan tipologi kondisi mangrove di Indonesia dan menjadi pembeda pola pemanfaatan masyarakat dengan mangrove sekitarnya.

Wilayah mangrove Mimika dan Asmat contohnya, landscape pesisir yang terletak di selatan Papua ini merupakan lokasi tumbuhnya satu hamparan ekosistem mangrove sebesar 513.900 hektar (USFS, 2014). Luasan ini merupakan yang terluas di Indonesia dan terluas kedua di dunia setelah hamparan mangrove Sundarbans di Bangladesh dan India. Ekosistem mangrove di Mimika dan Asmat mewakili landscape mangrove yang masih perawan (pristine mangrove) dengan tingkat keterancaman akibat alih fungsi lahan rendah.

Ekosistem mangrove di Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan memiliki ekosistem mangrove yang kini sebagian besar eksis di pesisir sebagai sabuk hijau pantai dan tepian sungai. Mangrove di wilayah ini mendapat tekanan dari konversi dan aktivitas budidaya udang dan ikan. Perubahannya terjadi sekitar tahun 1980-an hingga 1990-an. Sementara di pesisir Demak, kondisi mangrove mengalami tekanan luar biasa dari aktivitas budidaya perikanan yang sudah ada sejak tahun 1892 dan aktivitas industri di sekitarnya.

“Ekosistem mangrove di Sulawesi Selatan mengalami perubahan signifikan sejak tahun 1980-an. Pemicunya adalah alih fungsi lahan menjadi tambak. Menurut data Bakorsurtanal, tercatat tahun 1980 mangrove di Sulawesi Selatan seluas 214.000 ha, menyusut menjadi 12.820 ha pada tahun 2009. Saat ini, tambak dan mangrove menjadi satu landscape kunci di ekosistem mangrove di Sulawesi Selatan,” kata Yusran.

Sebagai contoh, Kabupaten Luwu Utara dan Luwu Timur dulunya adalah kawasan mangrove terluas di Sulsel khususnya pada era 1990-an. Penyusutan mangrove hingga 21.015 ha (86% ) dari kurun waktu 1978 – 2016. Seluas 13.028 ha berubah menjadi tambak (62%).

Mendorong mosaic landscape mangrove-tambak di Sulawesi Selatan penting untuk memastikan bisa saling mendukung. Produktifitas tambak bisa ditopang oleh ekosistem mangrove yang sehat. Hal yang sama terjadi di landscape Kalimantan Timur. Blue Forests menamai tipe landscape ini sebagai Bugis style mangrove aquaculture landscape karena sebagian besar dikelola oleh petambak-petambak Bugis Makassar.

Dengan konteks yang lebih luas, ekosistem mangrove merupakan aset kelas dunia dengan manfaat yang dimiliki. Dari seluruh luasan hutan di muka bumi, keberadaan hutan mangrove ‘hanya’ mewakili 0,7 % dari total luasan seluruh hutan tersebut. Namun, ekosistem unik ini mampu menyerap dan menyimpan karbon sejumlah 10 kali lipat dari hutan daratan lainnya.

Hutan mangi-mangi juga dapat mereduksi daya gelombang laut hingga 50% dan membuat pemukiman atau wilayah daratan yang memiliki pelindung mangrove dapat mengurangi risiko dari dampak gelombang laut dan angin kencang. Jasa ekosistem ini juga dapat ditingkatkan nilainya dengan pengembangan ekowisata serta pemanfaatan hasil hutan bukan kayu untuk komoditas seperti teh mangrove, madu mangrove, pengolahan sarang semut, dan lainnya.

Kondisi mangrove di Indonesia mengalami perubahan yang cukup signifikan dalam kurun waktu tiga dekade ini. Sebelum tahun 1980, luasan ekosistem mangrove di Indonesia pernah berada di angka 4,2 juta hektar. Tapi menurut data FAO tahun 2007 dalam tiga dekade terakhir, Indonesia kehilangan 40% mangrove hingga menjadi sekitar 2,4 juta hektar saja. Hal ini berarti laju kerusakan mangrove yang terjadi sebesar 60.000 ha atau setara dengan 85.714 lapangan sepak bola setiap tahunnya.

Faktor lainnya didorong lewat konversi areal pertanian dan pembangunan yang tidak memperhatikan aspek keberlanjutan. Ancaman lainnya datang dari konversi hutan menjadi kelapa sawit dan aktivitas tambang yang tak terkontrol di daerah hulu yang dapat merubah pola hidrologi normal yang mengganggu kehidupan mangrove di wilayah hilir. Selain ancaman-ancaman anthropogenic tersebut, yang umunya datang dari wilayah daratan, eksistensi mangrove juga terancam dari perubahan iklim yang menyebabkan naiknya muka air laut dan meningkatkan dinamika gelombang perairan laut sehingga menyebabkan ekosistem ini terdesak dari ancaman dari depan dan dari belakang.

Peran serta semua pihak dibutuhkan untuk merumuskan kebijakan dan perencanaan yang tepat serta implementasi program yang terpadu untuk mengelola ekosistem ini. Prinsip keberlanjutan dibutuhkan sebagai arah agar pembangunan ekonomi harus selaras dengan keseimbangan lingkungan dan keadilan sosial bagi masyarakat, terutama masyarakat adat. Kolaborasi para pihak juga mutlak dilakukan untuk membagi peran yang seimbang dalam mengelola ekosistem yang kompleks ini. Hal ini dilakukan agar dapat menjamin akses dan manfaat jangka panjang dari keberadaan mangrove untuk generasi yang akan datang.

“Peringatan hari mangrove se-dunia ini menjadi momentum yang tepat untuk menyuarakan kepada semua pihak tentang pentingnya manfaat dari keberadaan ekosistem mangrove sebagai penyokong kehidupan. Kesadaran inilah yang diharapkan harus dibangun sejak dini, bukan sebaliknya ketika ekosistem mangrove telah hilang dan ribuan manfaatnya hanya menjadi sekedar cerita,” tegas Yusran.

Hadir dalam diskusi ini Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lantebung Daeng Saraba yang ikut berbagi pengalamannya dalam memotivasi warga untuk menanam bakau dan mengembangkan aspek ekonomi dari menjaga mangrove. Serta, puluhan perwakilan dari Lembaga Swadaya Masyarakat, komunitas dan perwakilan media.

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed